Adapunbeberapa peninggalan kebudayaan Megalitikum di Indonesia diantaranya sebagai berikut. Makna dari Menhir. Semoga materi cara hidup di zaman megalitikum dapat menambah wawasan anda semuanya. Peninggalan zaman mesolitikum beserta fungsinya gambarnya secara lengkap seperti fungsi gambar abris sous roche kjokkenmoddinger kebudayaan toala dll. LowonganKerja Kebudayaan Sumatera Utara Lengkap Beserta Gambar Dan Februari 2022 Update Pkl: 06:50:33 am | Tgl: Sabtu 26 Februari 2022 Jakarta, DKI Jakarta | Rp 3.000.000 | full-time Home » Lowongan Kerja Kebudayaan Sumatera Utara Lengkap Beserta Gambar Dan Februari 2022 Pangsiadalah pakaian adat jawa Barat yang sampai sekarang ini mash trendi dan masih banyak digunakan. Bahkan, budaya dan nilai yang terkandung di dalamnya senantiasa mencerminkan budaya yang ada di tanah sunda yang tentu sudah diwariskan secara turun temurun. Adapunbeberapa rumah adat Jawa yang perlu diketahui lengkap dengan penjelasannya adalah sebagai berikut: Rumah Adat Badui www.goodnewsfromindonesia.id. Badui adalah suku Jawa yang tinggal dan menetap di wilayah Banten. Mereka dikenal sebagai suku pedalaman yang menjadikan alam sebagai elemen yang paling penting dalam kehidupan yang dijalani. Vay Tiền Online Chuyển Khoản Ngay. km dari USDMuseum AffandiKapsul Semesta Affandi KoesoemaMuseum Affandi adalah kapsul semesta Affandi, Sang Grandmaster seni lukis kebanggaan Indonesia. Seluruh aspek kehidupannya terabadikan di sini. Dari awal sampai akhir karirnya sebagai pelukis kelas dunia, sampai hidup dan matinya sebagai manusia biasa. Baca selengkapnyaPertunjukan GamelanOrkestra a la JawaGamelan adalah musik yang tercipta dari paduan bunyi gong, kenong dan alat musik Jawa lainnya. Irama musik yang lembut dan mencerminkan keselarasan hidup orang Jawa akan segera menyapa dan menenangkan jiwa begitu selengkapnya Kembali ke atas Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai kota pendidikan sekaligus dikenal sebagai kota budaya memiliki beragam kebudayaan tradisional salah satunya adalah upacara adat yang hingga saat ini masih sering dijumpai di beberapa daerah di Yogyakarta. Beberapa jenis upacara adat yang terdapat di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, antara lain sebagai berikut. Upacara Adat Sekaten Setelah Raden Patah dilantlik menjadi sultan pertama Kerajaan Demak, atas anjuran Wali Sanga didirikanlah Masjid Besar Demak yang selesai dibangun pada tahun 1408. Saat itu, penyebaran agama Islam tidak banyak mengalami kemajuan. Kemudian muncul gagasan dari Sunan Kalijaga untuk menyelenggarakan keramaian menjelang hari kelahiran Nabi Muhammad saw. Pada bulan Rabiulawal dibunyikanlah gamelan di halaman masjid agar rakyat mau masuk ke kompleks Masjid Besar. Sejak seminggu sebelum peringatan Maulid, diselenggarakan keramaian. Secara terus-menerus gamelan ditabuh disertai dengan dakwah agama. Beberapa lagu gamelan digubah oleh Sunan Giri dan Sunan Kalijaga. Mendengar bunyi gamelan yang merdu, rakyat berbondong-bondong menyaksikan dari dekat. kemudian menuju pelataran masjid. Para wali memanfaatkan keramaian tersebut sebagai ajang berdakwah tentang keluhuran agama Islam. Banyak yang tertarik dan kemudian masuk Islam. Mereka yang masuk Islam diwajibkan mengucapkan dua kalimat syahadat, istilah Arabnya adalah syahadatain. Lidah orang Jawa mengucapkannya sebagai sekaten. Orang yang telah mengucapkan syahadat berarti sudah resmi masuk Islam dan untuk menyempurnakan keislamannya lalu disunat. Pada malan 12 Rabiulawal, Sultan keluar dari keraton menuju Masjid untuk mendengarkan riwayat hidup Nabi. Pada tengah malam, Sultan kembali ke keraton beserta gamelan sekaten pertanda berakhirnya perayaan sekaten. Pada pemerintahan Sultan Agung, tradisi garebeg mulud disertai pisowanan garebeg di Sitihinggil. Acara tersebut diakhiri dengan wilujengan nagari berupa sesajian gunungan untuk kenduri di Masjid Agung. Sedekah dari raja untuk rakyat berupa gunungan inilah yang kemudian menjadi rebutan masyarakat karena dipercaya dapat digunakan sebagai tolak bala agar hasil pertanian tidak diserang hama penyakit. Selain garebeg mulud diadakan pula garebeg syawal untuk merayakan Idul Fitri dan garebeg besar untuk merayakan Idul Adha. Tradisi perayaan sekaten ini ditetapkan menjadi tradisi resmi sejak kerajaan pindah dari Demak ke Pajang, dari Pajang pindah ke Mataram, lalu ke Surakarta dan Yogyakarta. Pada masa pemerintahan Sri Sultan HB I, ditabuhlah dua gamelan sekaten, yaitu Kyai Gunturmadu yang bermakna anugerah yang turun ditempatkan di bangsal Pagongan Selatan dan Kyai Nogowilogo yang bermakna lestari dan menang perang ditempatkan di bangsal Pagongan Utara. Upacara Adat Labuhan Dalam kepercayaan Jawa, setiap tempat mempunyai penguasa gaib berupa makhluk halus penunggu. Gunung Merapi yang terletak di utara Kota Yogyakarta diyakini ditunggu oleh makluk halus bernama Eyang Sapujagad. Samudra Indonesia yang biasa disebut Laut Selatan terletak di selatan Kota Yogyakarta ditunggu oleh wanita cantik jelita bernama Kanjeng Ratu Kidul. Panembahan Senopati sebagai raja Mataram berupaya menjaga keharmonisan, keselarasan, dan keseimbangan dalam masyarakat. Oleh karena itu, ia menjalin komunikasi dengan kedua makhluk halus tersebut. Salah satu bentuk komunikasinya adalah dengan bersemadi di tempat-tempat tersebut. Ketika Panembahan Senopati merasa sudah saatnya mengambil alih kekuasaan Kerajaan Pajang, ia bertapa di Laut Selatan. Sementara itu, pamannya, yaitu Ki Juru Mertani, bertapa di Gunung Merapi. Untuk menghormati ikatan antara Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram penerus Panembahan Senopati, maka setiap tahun diadakan labuhan di Pantai Parangtritis. Jika kewajiban itu diabaikan, terdapat kepercayaan bahwa Kanjeng Ratu Kidul akan murka dengan mengirim tentara jin untuk menyebarkan penyakit dan berbagai musibah yang akan menimbulkan malapetaka bagi rakyat dan kerajaan. Namun, jika labuhan tetap dilaksanakan, maka Kanjeng Ratu Kidul akan memberikan perlindungan dan bantuan ke Mataram. Labuhan ini sudah menjadi upacara adat Keraton Mataram sejak abad ke XVII. SeteIah Perjanjian Gianti tahun I755 yang membagi Mataram menjadi dua kerajaan, yaitu Kasunanan Surakarta dan KesuItanan Yogyakarta, maka tradisi labuhan dilakukan oleh dua kerajaan Jawa tersebut. Labuhan pertama kali di Kesultanan Yogyakarta diadakan sehari setelah penobatan Pangeran Mangkubumi sebagai Sultan Hamengkubuwono I tahun I755. Tradisi ini berlangsung sampai Sultan Hamengkubuwono ke VIII. Pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono ke IX, labuhan diadakan setelah ulang tahun Sultan. Kini, di masa Sultan Hamengkubuwono ke X, labuhan dilaksanakan seperti dulu lagi, yaitu sehari sesudah penobatannya menjadi raja. Labuhan diadakan setiap tahun pada tanggal 30 bulan Rejeb karena Sultan Hamengkubuwono X dinobatkan pada hari Selasa Wage tanggal 29 Rejeb tahun Wawu 1921 atau 7 Maret 1989. Berikut ini prosesi labuhan Sultan Hamengkubuwono X. Setibanya barang-barang labuhan atau sesaji di Parangkusumo, rombongan abdi dalem memasuki kompleks berpagar yang di dalamnya terletak Sela Gilang. Di atas batu inilah dulu Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul mengadakan pertemuan. Tempat itu diyakini sebagai pintu gerbang menuju kerajaan Kanjeng Ratu Kidul. Juru kunci yang memimpin pelaksanaan upacara membakar kemenyan, kemudian menanam kuku, rambut, dan pakaian bekas Sultan Hamengkubuwono X di pojok kompleks. Juru kunci membakar kemenyan lagi dan mengasapi ketiga ancak yang berisi barang labuhan lalu berangkat ke pantai untuk melabuhnya. Sekitar 10 langkah dari garis pantai, juru kunci duduk bersila menghadap ke laut melakukan sembah ke Kanjeng Ratu kidul sambil mengucapkan doa permohonan, ”Hamba mohon permisi, Gusti Kanjeng Ratu Kidul. Hamba memberikan labuhan cucu Paduka lngkang Sinuwun Kanjeng Sultan yang ke X di Ngayogyakarta Hadiningrat. Cucu paduka mohon pangestu, mohon keselamatan, mohon panjang usia, kemuliaan kerajaan, keselamatan negara di Ngayogyakarta Hadiningrat.” Ketiga ancak segera dibawa ke tengah laut untuk dilabuh. Ancak paling depan untuk dipersembahkan kepada Kanjeng Ratu Kidul, raja dari semua makhluk halus di Laut Selatan. Ancak kedua dipersembahkan kepada Nyai Roro Kidul yang menjabat sebagai patih Kanjeng Ratu Kidul, dan ancak ketiga dipersembahkan kepada mBok Roro Kidul, pembantu kedua. Masyarakat yang menghadiri acara labuhan biasanya beramai-ramai memperebutkan sebagian dari benda labuhan yang dihanyutkan ombak ke pantai. Menurut kepercayaan, barang-barang yang masih baru akan hanyut ke dalam laut karena dipakai oleh Kanjeng Ratu Kidul, sedangkan barang-barang bekas seperti baju bekas Sultan dan bunga bekas sesaji akan kembali ke pantai. Menurut kepercayaan, barang-barang yang kembali terdampar di pantai tersebut mempunyai kekuatan gaib karena dikirim kembali oleh Kanjeng Ratu Kidul untuk mengatasi segala gangguan dan penyakit. Beberapa orang menjadikannya sebagai jimat. Jimat adalah suatu benda yang difungsikan sebagai pusaka dan dipercaya mempunyai kekuatan magis untuk membantu pemiliknya menangkal gangguan alam. Yang mendapatkan benda-benda labuhan berharap akan beroleh kesejahteraan dan keberuntungan hidup. Upacara Adat Bekakak Bekakak disebut juga saparan bekakak. Bekakak berarti korban penyembelihan manusia atau hewan. Hanya saja, bekakak yang disembelih dalam upacara ini hanya tepung ketan yang dibentuk seperti pengantin laki-laki dan perempuan sedang duduk. Sebelum diarak untuk disembelih, pada malam sebelumnya diadakan upacara midodareni layaknya pengantin sejati. Menurut kepercayaan masyarakat, pada malam menjelang perkawinan, para bidadari turun ke bumi untuk memberi restu. Orang-orang begadang semalam suntuk demi menyambut kedatangan para bidadari tersebut. Pada siang hari, "pengantin" diarak dari Balai Desa Ambarketawang, Sleman, Yogyakarta ke Gunung Gamping. Ini adalah tempat Kyai Wirasuta, abdi dalem Sri Sultan HB I muksa, hilang tanpa bekas. Kyai Wirasuta adalah abdi dalem penongsong, abdi dalem pembawa payung ketika Sri Sultan HB I bepergian. Ketika Sultan pindah dari Ambarketawang ke keraton yang baru, abdi dalem ini tidak ikut pindah dan tetap tinggal di Gamping. Ia menjadi cikal-bakal penduduk di sana. Ia tinggal di dalam gua di bawah Gunung Gamping tersebut. Suatu hari, Jumat Kliwon sekitar tanggal 10-15 bulan Sapar, menjelang purnama terjadi musibah yang menimpa Kyai Wirasuta sekeluarga. Gunung Gamping yang didiami runtuh. Kyai Wirasuta sekeluarga beserta hewan kesayangannya berupa landak, gemak, dan merpati terkubur di reruntuhan. Sri Sultan HB I segera memerintahkan untuk mencari jenazah mereka, tetapi tidak ditemukan. Maka Sultan memerintahkan para abdi dalem keraton supaya setahun sekali setiap bulan Sapar antara tanggal 10-20 untuk membuat selamatan dan ziarah ke Gunung Gamping dengan tujuan untuk mengenang jasa dan kesetiaan Ki Wirasuta sebagai abdi dalem yang loyal sampai akhir hayat. Penyembelihan bekakak dimaksudkan sebagai bentuk pengorbanan untuk para arwah atau danyang penunggu Gunung adalah agar mereka tidak mengambil korban manusia, sekaligus berkenan memberikan keselamatan kepada masyarakat yang menambang batu gambing di sana. Upacara Adat Rebo Wekasan Rebo wekasan merupakan suatu upacara tradisional yang terdapat di Desa Wonokromo, Pleret, Bantul. Letaknya sekitar 10 km dari Kota Yogyakarta. Rebo wekasan berasal dari kata rebo dan wekasan yang berarti hari Rabu terakhir bulan Sapar. Pada tahun 1600, Keraton Mataram yang berkedudukan di Pleret sedang dilanda penyakit atau pageblug. Sultan Agung sebagai raja Mataram sangat prihatin. Ia pergi bersemadi di Masjid Soko Tunggal di Desa Kerton. Dalam semadinya ia mendapat petunjuk dari Tuhan untuk membuat penolak bala guna mengusir wabah tersebut. Dipanggillah Kyai Sidik dari Wonokromo untuk membuat penolak bala. Jimat adalah penolak bala itu. Jimat tersebut berupa aksara Arab bertuliskan Bismillahir Rahmanir Rahim sebanyak 124 baris dan dibungkus dengan kain mori putih. Oleh Sultan Agung, jimat tersebut direndam dalam bokor kencana dan diminumkan kepada orang yang sakit. Ternyata mereka sembuh. Semakin banyaklah orang yang datang meminta air tersebut. Lantaran tidak mencukupi untuk semua orang, maka Sultan Agung memerintah Kyai Sidik untuk membuang jimat tersebut ditempuran Sungai Opak dan Sungai Gajahwong. Berduyun-duyunlah orang berkunjung ke tempuran tersebut untuk membasuh muka, mandi, dan berendam agar mendapat keberuntungan. Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I, Kyai Muhammad Fakih dititahkan untuk membuat masjid pathok negoro di Desa Wonokromo dengan nama Masjid at-Taqwa. Awalnya masjid tersebut terbuat dari anyaman bambu dengan atap dari anyaman daun alang-alang yang disebut welit. Karena keahliannya membuat welit maka masyarakat sekitar memanggilnya Kyai Welit. Dia juga meneruskan tradisi rebo wekasan pada Rabu terakhir bulan Sapar tahun 1754 atau 1837 M. Dia membuat kue lemper yang dibagikan ke masyarakat di sekitarnya. Menurutnya, kue lemper mengandung nilai filosofis. Kulit lemper dari daun pisang mengibaratkan segala hal yang dapat mengotori akidah, sehingga harus dibuang. Ketan ibarat kenikmatan duniawi. Isi lemper yang berupa daging cincangan ibarat kenikmatan akhirat. Jadi makan lemper bermakna bahwa orang yang ingin mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat harus bisa menghilangkan kotoran jiwa sehingga jadi bersih seperti lemper yang sudah dikupas. Peristiwa tersebut dianggap sebagai hari bersejarah bagi masyarakat Wonokromo sehingga diperingati setiap tahun. Upacara rebo wekasan dianggap sebagai pengingat bahwa telah terjadi musibah yang menelan banyak korban jiwa. Tradisi mengarak lemper diteruskan sampai sekarang dalam bentuk lemper raksasa sepanjang dua setengah meter dengan diameter setengah meter. Upacara Adat Siraman Kanjeng Kyai Jimat Upacara ini dimaksudkan sebagai bentuk pemuliaan terhadap benda-benda pusaka kerajaan yang mengandung nilai sejarah atau mempunyai nilai spiritual karena bertuah dan menyajikan persembahan makanan caos dahar berupa sesajen buat kereta pusaka Kanjeng Kyai Jimat diharapkan roh penunggu kereta memberikan keselamatan bagi keluarga keraton dan para kawula kerajaan. Acara ini diselenggarakan di museum kereta Pagedongan Rotowijayan, Keraton Yogyakarta. Biasanya, acara digelar pada hari Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon bulan Sura. Setelah diberi sesaji, kain penutup kereta dibuka untuk didorong dari tempatnya ke luar depan pintu Pagedogan. Bagian pertama yang dibersihkan adalah bagian depan kereta berupa patung putri duyung. Dilanjutkan bagian atap, terus ke belakang. Terakhir adalah bagian roda kereta. Asap dupa terus mengepul tiada henti menciptakan suasana magis. Seusai siraman, kereta Pusaka dikeringkan dengan kain lap. Perasan kain lap ditampung di dalam ember. Saat itulah, air perasan tadi menjadi rebutan masyarakat karena dipercaya mengandung kekuatan gaib untuk menyembuhkan segala macam penyakit. Upacara Adat Nguras Enceh Enceh atau kong adalah gentong wadah air yang terbuat dari tanah liat. Ada empat buah enceh di halaman Supit Urang Istana Saptarengga, makam Sultan Agung. Dua buah enceh yang ada di sebelah timur menjadi wewenang Kasunanan Surakarta dan dua buah yang ada di sebelah barat menjadi wewenang Kesultanan Yogyakarta. Nama-nama enceh mulai dari timur ke barat adalah Nyai Siyem berasal dari negeri Siam atau Muangthai, Kyai Mendung berasal dari negeri Ngerum, Kyai Danumaya berasai dari Palembang, dan Nyai Danumurti berasal dari Aceh. Menurut abdi dalem Puralaya yang menjaga makam, enceh ini digunakan sebagai tempat wudu Sultan Agung ketika hendak menunaikan salat. Pada bulan Sura, hari Jumat Kliwon, banyak masyarakat yang mengikuti upacara pembersihan enceh. Mereka berebut mendapatkan air bekas cucian enceh. Ada juga yang caos dhahar dengan membawa kembang setaman dan membakar kemenyan. Mereka minta agar dikabulkan segala cita-citanya. Ada juga orang-orang tua yang membasuh mukanya dengan air enceh yang dipercaya dapat membuat awet muda dan menyembuhkan berbagai penyakit. Yogyakarta atau "Jogja" merupakan sebuah kota kecil di sebelah selatan Pulau Jawa yang berpredikat kota pelajar. Selain menyandang predikat kota pelajar, Yogyakarta juga pantas disebut sebagai kota budaya karena masyarakat di kota ini masih sangat menjunjung tinggi adat dan budaya yang mereka miliki. Berbagai ragam kesenian tradisional masih terus digelar dan dilestarikan oleh seniman-seniman di Provinsi Yogyakarta ini. Kesenian khas yogyakarta tidak hanya ditampilkan pada hari-hari tertentu saja. Namun, masih banyak kesenian-kesenian khas yang ditampilkan oleh masyarakat Yogyakarta untuk memeriahkan berbagai upacara adat, seperti pernikahan, khitanan, kelahiran, dan upacara adat lainnya. Kesenian Tradisional Yogyakarta Berikut ini beragam kesenian khas yogyakarta yang dikenal oleh masyarakat Yogyakarta serta penjelasannya. 1. Wayang Kulit Wayang kulit merupakan kesenian tradisional yang sudah berusia ratusan tahun. Dalam pertunjukan wayang kulit, penonton dapat menyaksikan dari arah depan atau dari arah belakang. Dari belakang, penonton akan melihat bayang-bayang wayang dari dalam kelir tirai kain putih untuk menangkap bayang-bayang wayang kulit. Bayang-bayang inilah yang mungkin menjadi cikal bakal lahirnya istilah wayang yang berarti bayang-bayang. Selain itu bayang-bayang ini ditafsirkan bahwa cerita dalam pewayangan mencerminkan bayang-bayang kehidupan manusia di dunia. Wayang kulit gaya Yogyakarta mempunyai tampilan fisik yang berbeda dengan wayang dari daerah lain. Perbedaannya terletak pada beberapa hal; wayang gaya Yogyakarta terkesan dinamis atau terlihat bergerak, ditandai dengan tampilan posisi kaki yang melangkah lebar seperti orang yang sedang melangkah; tampilan bentuk luarnya lebih tambun dan tidak terkesan kurus; tangannya sangat panjang hingga menyentuh kaki; serta tatahannya inten-intenan, terutama pada pecahan uncal kencana, sumping, turido, dan bagian busana lainnya. Dilihat dari sunggingannya lukisan/ perhiasan yang diwarnai dengan cat, digunakan sunggingan tlacapan atau sunggingan sorotan, yaitu unsur sungging yang berbentuk segitiga terbalik yang lancip-lcncip seperti bentuk tumpal pada motif kain batik; dan di bagian siten-siten atau lemahan, yaitu bagian di antara kaki depan dan kaki belakang, umumnya diberi warna merah. Untuk mengetahui wayang gaya Yogyakarta, ditentukan dari jenis mata wayang. Bentuk hidung wayang, mulut wayang, bentuk mahkota, jenis pemakaian kain dodot dan posisi kaki, serta atribut lainnya merupakan beberapa atribut yang perlu diperhatikan untuk mengenal wayang Yogya. 2. Wayang Wong Sesuai dengan namanya, kesenian ini menggunakan wong orang sebagai pemainnya. Wayang wong berbeda dengan wayang kulit yang menggunakan wayang dari kulit sebagai alat peraganya. Wayang wong adalah suatu seni drama yang menggabungkan antara seni dialog dan seni tembang. Wayang wong pertama kali diciptakan oleh Mangkunegara I yang berkuasa dari tahun 1757 sampai tahun 1795. Pemain-pemain wayang wong adalah para abdi dalem keraton sendiri. Pada masa pemerintahan Mangkunegara V, pada tahun 1881, pagelaran wayang wong semakin hidup dan dianggap sebagai hiburan. Selanjutnya wayang wong berkembang menjadi wayang wong gaya Surakarta dan wayang wong gaya Yogyakarta. Wayang wong gaya Yogyakarta pertama kali muncul pada pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwo no VII yang bertakhta dari tahun 1878 sampai tahun 1921. Dahulu kala, wayang wong hanya dipentaskan di lingkungan keraton, yaitu di Baluwerti. Para pemainnya adalah pangeran dan keluarga keraton sen- diri. Kesenian ini merupakan ajang ekspresi kehalusan budi, keterampilan tari, dan bela diri. Semua pemainnya laki-laki. Bahkan, tokoh wanita pun dimainkan oleh laki-laki. Perbedaan antara wayang wong gaya Surakarta dan Yogyakarta terletak pada penggunaan kethok dan kecrek serta dalang untuk suluk nyanyian atau tembang dalang yang dilakukan ketika akan memulai adegan di pertunjukan wayang dan menceritakan adegan yang silih berganti untuk gaya Surakarta. Adapun gaya Yogyakarta hanya menggunakan keprak bunyi-bunyian pengiring gerakan serta pembaca kandha yang bukan merupakan dalang. Pada gaya Surakarta, cengkok atau lagu percakapan nampak lembut merayu, sedangkan gaya Yogyakarta terlihat datar dan melankolik. Dalam gaya Surakarta, tarian terlihat luwes sedangkan dalam gaya Yogyakarta tarian tampak lebih gagah, trengginas lincah, dan memikat. Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono V 1822-1855 dipergelarkan tidak kurang lima cerita, yakni Pragolomurti, Petruk Dadi Ratu, Rabinipun Angkawijaya, Joyosemadi, dan Pregiwo-Pregiwati. Pada periode pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VII 1877-1921 hanya dua kali pementasan dengan lakon Sri Suwela dan Pregiwo-Pregiwati. Wayang wong mencapai popularitasnya pada saat Sri Sultan HB VIII berkuasa. Pada masa itu digiatkan pembaruan dan penyempurnaan besar-besaran pada tata busana, teknik, ragam gerak tari, dan kelengkapan pentas. Proyek ini melibatkan empu tari KRT Joyodipuro, KRT Wiroguno, GPH Tejokusumo, KRT Wironegoro, BPH Suryodiningrat, dan KRT Purboningrat. Selama periode 1921- 1939 ini tidak kurang 20 lakon wayang wong dipentaskan. 3. Ketoprak Surakarta tahun 1898. Wabah pes merajalela dan meminta banyak korban jiwa. Banyak orang yang dirawat dibarak-barak darurat. Untuk menghibur rakyat yang sedang menderita, KRT Wreksadiningrat segera mengerahkan para abdi untuk merawat dan mempersembahkan hiburan kesenian. Mereka membawa lesung untuk ditabuh disertai dengan tarian dan nyanyian. Beberapa seniman mengembangkan ketoprak lesung tersebut dengan menambah instrumen musik, seperti siter alat musik petik yang berdawai, bentuknya menyerupai kecapi Sunda, gender gamelan Jawa yang dibuat dari bilah bilah logam berjumlah empat belas dengan penggema dari bambu, kendang dan genjring rebana kecil yang dilengkapi dengan kepingan logam bundar pada bingkainya. Mereka mulai manggung di luar tembok keraton dengan memakaı kostum ala Turki atau Arab dan mengambil cerita rakyat Jawa. Dialognya dinyanyikan sambil menari. Ketoprak lesung dari Solo untuk pertama kalinya dipentaskan di Yogyakarta pada tahun 1900, yaitu sebagai hiburan dalam rangka memeriahkan perkawinan agung KGPAA Paku Alam VII dengan RA Puwoso, putri Sunan Pakubuwono X. Sejak saat itu ketoprak berkembang di Yogyakarta. 4. Dagelan Mataram Dagelan Mataram adalah pertunjukan humor atau lawak yang dialognya menggunakan bahasa Jawa. Kesenian ini berkembang di wilayah Yogyakarta. Jenis lawakan ini populer di Yogyakarta sekitar tahun 1950-an. Cerita yang dipentaskan dalam dagelan Mataram biasanya cerita sederhana dan dekat dengan kehidupan masyarakat desa. Misalnya, konflik rumah tangga yang kemudian dapat diselesaikan secara adil. Intrik-intrik dalam konflik itulah yang dibumbui dengan dagelan segar. Makna dibalik dagelan sederhana itulah yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Melalui dagelan, kritik atas sesuatu yang melenceng dapat diungkapkan tanpa menyinggung perasaan seseorang. Di tahun 70-an dikenal pemain dagelan Mataram yang cukup populer, yaitu Basıyo. Beberapa kaset dagelannya beredar di masyarakat, seperti Besanan, Dadung Kepuntir, Degan Wasiat, Gatutkaca Gandrung, Kapusan, Maling Kontrang-Kantring, mBecak, mBlantik Kecelik, Midang, Ngedan, Pangkur Jenggleng, dan Gandrung. Bersama sang istri, Darsono, dan Arjo, Basiyo mengemas dagelan Mataram menjadi segar dan kocak. Di era 1990-an, dagelan Mataram mulai menghilang dari masyarakat. Kesenian jenaka ini tergeser oleh jenis kesenian lain yang lebih baru semisal campursari dan dangdutan. 5. Wayang Beber Pertunjukan wayang beber dilakukan dengan pembacaan cerita atau gambar yang melukiskan kejadian atau adegan yang terlukis pada kertas. Pada saat ini, pertunjukan wayang beber dapat dikatakan sudah punah karena lukisan mengenai wayang tersebut tidak dibuat lagi. Wayang beber termasuk wayang yang paling tua usianya. Ia berasal dari masa akhir zaman Hindu di Jawa. Pada mulanya, wayang beber berkisah tentang cerita Mahabharata kemudian beralih ke cerita Panji dari Kerajaan Jenggala pada abad XI dan mencapai jayanya pada zaman Majapahit sekitar abad XIV-XV. Ketenaran wayang ini memudar sejak zaman Mataram. Salah satu wayang beber yang tersisa ditemukan di Desa Gelaran, Bejiharjo, Karangmojo, Gunung Kidul, yang terletak 47 km sebelah tenggara kota Yogyakarta. Wayang beber tersebut dinamai wayang beber Kyai Remeng, milik Ki Sapar Kromosentono yang merupakan ahli waris ketujuh. Menurut cerita rakyat di sana, wayang beber tersebut dibuat dalam rangka peringatan tujuh bulan dalam kandungan Sultan Hadiwijaya 1546-1586 yang terkenal dengan sebutan Jaka Tingkir. Di Jawa dinamakan mitoni. Setelah Jaka Tingkir dinobatkan sebagai raja Pajang, Kyai Remeng dijadikan pusaka kerajaan dan kemudian diwariskan ke Mas Ngabehi Saloring Pasar yang bergelar Panembahan Senopati, putra angkatnya. Di kemudian hari Kyai Remeng menjadi pusaka Keraton Mataram. Hingga saat ini, wayang beber Kyai Remeng dianggap sebagai benda pusaka oleh keluarga Ki Sapar Kromosentono. Setiap malam Jumat, benda keramat ini diselamati dengan sesaji. 6. Tayub Tayub berasal dari kata mataya yang berarti tarian dan guyub yang berarti rukun. Jika digabungkan berarti tarian kerukunan atau tarian persahabatan. Di Yogyakarta juga ada semacam tayub yang disebut beksan pangeranan. Seorang penari bisa ditemani seorang teledek atau beberapa teledek secara bersamaan. Saat gamelan berhenti, baru minuman disajikan. DahuIukala, tarian tayub hanya dilakukan oleh kerabat bangsawan yang memang telah mahir menari. Disebutkan dalam Serat Centhini, pada awal abad XIX putra Sunan Giri III melakukan pengembaraan ke seantero Jawa. Waktu tiba di Desa Kepleng, ia menyaksikan penduduk gemar bermain tabuh-tabuhan dan dilanjutkan dengan tayuban dengan perempuan bernama Gendra. Dalam membawakan tarian, Gendra begitu memukau penonton sehingga merangsang mereka untuk menari bersamanya. Akibat mereka saling berebut untuk bisa menari bersama Gendra, tidak jarang terjadi ketegangan, percekcokan, dan bahkan perkelahian. Gendra memang berarti si pembuat onar. Tayub yang berkaitan dengan ritus kesuburan masih ada di daerah Semin, Gunung Kidul. Tayub diadakan dalam rangka perayaan datangnya Dewi Sri, dewi kesuburan. Awalnya teledek menari dengan diiringi gending Sri Boyong, agar Dewi Sri hadir di antara mereka untuk melindungi petani dari segala hama tanaman. Kemudian dilanjutkan dengan gending Sri Katon untuk menghormati Dewi Sri yang sudah hadir di antara mereka. Setelah gending Rujak Jeruk, maka para penonton bersuka cita menari bersama teledek. Bicara mengenai Daerah Istimewa Yogyakarta, ada banyak hal menarik yang bisa dikulik dari kota tersebut. Salah satunya adalah sejumlah upacara adat khas Yogyakarta, yang masih tetap dilaksanakan hingga hari ini. Lantas, apa saja upacara adat yang masih eksis di Jogja? Selain terkenal dengan tempat wisatanya yang indah, Yogyakarta juga dikenal sebagai kota yang memiliki banyak aneka macam kebudayaan dan adat istiadat yang masih sangat kental. Di zaman yang semakin maju dan modern ini, ternyata beberapa upacara adat ini pun masih bisa Anda temukan di beberapa daerah di Yogyakarta. Bahkan beberapa upacara adat tersebut berhasil menjadi daya tarik bagi wisatawan. Pasalnya tidak hanya unik, tetapi para wisatawan juga dapat menambah ilmu tentang tradisi di suatu tempat. Biasanya, upacara adat ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali. 10 Upacara Adat Khas Yogyakarta 1. Upacara Sekaten Upacara Sekaten merupakan sebuah tradisi yang diperuntukkan untuk merayakan hari ulang tahun Nabi Muhammad SAW dan biasa diadakan setiap tanggal 5 bulan Rabiul Awal tahun hijriah bulan Jawa mulud di alun-alun utara Yogyakarta dan Surakarta. Awal mulanya, Sekaten diadakan oleh Pendiri Keraton Yogyakarta, yaitu Sultan Hamengkubuwono 1 untuk mengundang masyarakat Jogja untuk mengikuti dan memeluk agama Islam. Upacara ini dimulai saat malam hari dengan iring-iringan abdi dalem keraton bersama dengan lantunan musik dari dua set Gamelan Jawa Kyai Nogowilogo dan Kyai Gunturmadu. Sebagai informasi, Upacara Sekaten ini dilaksanakan selama tujuh hari berturut-turut, atau tepatnya sampai tanggal 11 bulan Jawa mulud. Dan kedua set gamelan ini akan terus dimainkan sampai acara berakhir. Artikel Terkait 5 Upacara Pemakaman Termahal di Indonesia 2. Upacara Grebeg Muludan Setelah berakhirnya Upacara Sekaten, masyarakat Yogyakarta langsung melaksanakan Upacara Grebeg Muludan pada tanggal 12 bulan mulud atau 12 Rabiul Awal. Upacara ini diadakan sebagai wujud syukur atas kemakmuran yang diberikan oleh Tuhan. Dalam prosesi upacara ini, Anda juga akan melihat iring-iringan abdi dalem keraton yang membawa gunungan yang terbuat dari beras ketan, makanan, buah-buahan, hingga sayur-sayuran. Nantinya, gunungan tersebut akan dibawa dari Istana Kemandungan menuju ke Masjid Agung. Para masyarakat di sana percaya bahwa bagian dari gunungan ini akan membawa berkah untuk mereka. Maka tak heran, banyak orang yang berlomba-lomba untuk mengambil bagian gunungan yang dianggap sakral. Kemudian, mereka akan menanamnya di sawah ladang miliknya. 3. Upacara Tumplak Wajik Dua hari sebelum perayaan Grebeg, Upacara Tumpak Wajik dilaksanakan terlebih dulu di halaman Magangan Kraton Yogyakarta pada pukul sore. Acara ini menandai dimulainya proses pembuatan gunungan, simbol sedekah raja kepada rakyat. Pada saat prosesi Tumplak Wajik berlangsung, sejumlah abdi dalem turut mengiringi dengan suara tetabuhan dari lesung, alat tradisional yang biasa digunakan untuk mengolah padi menjadi beras. Begitu prosesi Tumplak Wajik selesai, barulah Upacara Grebeg Muludan bisa dilaksanakan pada hari berikutnya. 4. Upacara Siraman Pusaka Upacara Siraman Pusaka Kraton merupakan tradisi untuk memandikan setiap pusaka milik Ngarsa Dalem atau milik Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Biasanya, upacara ini dilaksanakan selama dua hari pada bulan Sura dan bersifat tertutup. Dengan kata lain, upacara adat khas Yogyakarta ini tidak bisa disaksikan masyarakat umum. Pusaka yang dibersihkan pun bermacam-macam, mulai dari tombak, keris, pedang, kereta, ampilan, dan masih banyak lagi. Bagi Kraton Yogyakarta, pusaka paling penting adalah tombak Ageng Plered, Keris Ageng Sengkelat, dan Kereta Kuda Nyai Jimat. Artikel Terkait Melasti Makna, Asal Usul dan Tata Cara Pelaksanaan Upacara Melasti 5. Upacara Labuhan Upacara Labuhan merupakan salah satu upacara adat yang dilakukan oleh raja-raja di Keraton Yogyakarta dan sudah berlangsung sejak zaman Kerajaan Mataram Islam pada abad ke XIII hingga sekarang. Upacara ini dilaksanakan dengan tujuan meminta keselamatan, ketentraman, dan kesejahteraan masyarakat serta Kraton Yogyakarta sendiri. Selain itu, Upacara Labuhan juga dilaksanakan di empat lokasi yang berbeda, yakni Pantai Parangkusumo, Gunung Merapi, Gunung Lawu, dan Dlepih Kahyangan. Dan upacara adat ini juga dilakukan setiap delapan tahun sekali. Dalam prosesinya, banyak perlengkapan yang harus disiapkan. Mulai dari gunungan, kain batik, rambut, kuku milik Sri Sultan yang dikumpulkan selama satu tahun, hingga sejumlah abdi dalem. Kemudian benda-benda milik Sri Sultan tersebut akan dihanyutkan. Dan masyarakat diperbolehkan untuk mengambil benda Labuhan tersebut. 6. Upacara Nguras Enceh Upacara Nguras Enceh menjadi upacara adat khas Yogyakarta yang sayang untuk dilewatkan. Tradisi ini dilaksanakan setiap bulan Sura dalam kalender jawa dan diikuti oleh abdi dalem Kraton Surakarta dan Yogyakarta. Dan dilaksanakan bertepatan dengan hari Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon. Tujuan dari upacara adat ini adalah untuk membersihkan diri dari hati yang kotor. Upacara ini diawali dengan membersihkan empat gentong di makam para Raja Jawa di daerah Imogiri, Bantul, Jawa Tengah. Empat gentong tersebut diantaranya adalah Nyai Siyem dari Siam, Kyai Mendung dari Turi, Kyai Danumaya yang berasal dari Aceh, dan Nyai Danumurti dari Palembang. Air dari keempat gentong tersebut dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit dan menghilangkan kemalangan bagi siapa saja yang mengikuti Upacara Nguras Enceh itu. Artikel Terkait Tradisi Bakar Tongkang, Upacara Bakar Kapal Kayu dari Bagan Siapi-api 7. Upacara Saparan Upacara Saparan atau disebut juga Bekakak ini diadakan oleh masyarakat Desa Ambarketawang, yang terletak di Kecamatan Gamping, Sleman setiap hari Jumat di bulan Sapar. Upacara adat ini dilaksanakan dengan penyembelihan Bekakak, yang artinya korban penyembelihan hewan atau manusia. Namun untuk upacara adat ini hanya menggunakan tiruan manusia saja, yaitu sepasang boneka pengantin jawa yang terbuat dari tepung ketan. Tujuan awal dilaksanakannya Upacara Saparan ini adalah untuk menghormati arwah Ki Wirasuta dan Nyi Wirasuta sekeluarga. Mereka adalah abdi dalem Hamengkubuwono 1 yang disegani. Kemudian pada akhirnya berubah, kini upacara adat itu bertujuan untuk memohon keselamatan masyarakat agar terhindar dari segala bencana. 8. Upacara Rebo Pungkasan Wonokromo Pleret Upacara Rebo Pungkasan adalah upacara adat yang masih terus dilaksanakan oleh masyarakat di desa Wonokromo, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Diberi nama Rebo Pungkasan karena dilaksanakan pada hari Rabu terakhir di bulan Sapar. Upacara Rebo Pungkasan ini bertujuan untuk mengungkap rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa YME. Dahulu, upacara ini dilaksanakan di depan masjid dan seminggu sebelum acara sudah banyak diadakan acara meriah, seperti pasar malam. Namun, karena banyak yang menilai prosesi ini mengganggu orang yang sedang beribadah, maka Upacara Rebo Pungkasan ini dipindahkan ke depan Balai Desa di lapangan Wonokromo. 9. Upacara Adat Pembukaan Cupu Ponjolo Upacara Adat Pembukaan Cupu Ponjolo ini diadakan setiap Pasaran Kliwon di penghujung musim kemarau pada bulan Ruwah berdasarkan kalender Jawa. Orang-orang di Desa Mendak Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul, DIY masih melaksanakan upacara adat ini sampai sekarang. Cupu Ponjolo diketahui adalah tiga buah cupu keramat yang disimpan dalam kotak kayu berukuran 20 x 10 x 7 cm dan dibungkus menggunakan ratusan lembar kain mori. Tujuan dari upacara adat ini sebenarnya adalah untuk membuka dan mengganti pembungkus cupu tersebut. Menariknya, banyak masyarakat yang percaya bahwa setiap gambar yang terlukis di kain mori pembungkus cupi itu adalah bentuk ramalan peristiwa setahun ke depan. 10. Upacara Jamasan Kereta Pusaka Terakhir, upacara adat yang masih dilaksanakan di Yogyakarta sampai hari ini adalah Upacara Jamasan Kereta Pusaka. Upacara ini biasa digelar di Museum Keraton Yogyakarta pada setiap malam Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon di bulan Suro. Tujuan dari Upacara Jamasan adalah untuk merawat dan membersihkan benda-benda pusaka milik Keraton Yogyakarta, seperti Kereta, Gamelan, Keris, Tombak, dan lain-lain. Menariknya, banyak warga berlomba-lomba untuk mendapatkan air cucian bekas dari benda pusaka tersebut, karena percaya air tersebut bisa mendatangkan keberkahan dan keberuntungan. Itulah upacara adat di Yogyakarta yang masih tetap terjaga sampai hari ini. Parents, pernah mengikuti salah satu upacara tersebut? *** Baca juga Upacara Kerik Gigi, Tradisi Menyakitkan Suku Mentawai demi Tampil Cantik Berlangsung Meriah, Inilah Tradisi Upacara Pemakaman Rambu Solo dari Toraja Mengenal Keunikan Tradisi Mekotek Asal Bali, Upacara Tolak Bala Warga Pulau Dewata Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

kebudayaan yogyakarta lengkap beserta gambar dan penjelasannya